Bandingkan Daftar

BI rate naik, Gen Z enggan beli rumah di 2026

BI rate naik, Gen Z enggan beli rumah di 2026

Hi Property Lovers! Memiliki rumah impian tidak benar-benar hilang dari benak generasi muda. Mimpi tersebut semakin sulit diwujudkan ketika kenaikan suku bunga, harga properti, dan pertumbuhan pendapatan bergerak dengan kecepatan yang tidak seimbang. Keengganan anak muda membeli rumah sebaiknya tidak buru-buru dibaca sebagai perubahan gaya hidup. Persoalan utamanya lebih sederhana sekaligus lebih serius: rumah yang tersedia semakin jauh dari kemampuan finansial mereka.

Di tengah ketidakpastian global, bahkan muncul proyeksi bahwa BI Rate dapat mencapai 6,75 persen pada akhir 2026. Kebijakan ini memang diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, tetapi konsekuensinya tidak ringan bagi sektor perumahan karena biaya dana perbankan berpotensi meningkat dan secara bertahap diteruskan kepada bunga KPR.

Kenaikan BI Rate membuat bunga KPR dan cicilan rumah berpotensi ikut meningkat. Kondisi ini memang menekan kemampuan membeli rumah, terutama bagi Gen Z yang masih berada pada tahap awal karier. Namun, menunda tanpa rencana juga bukan solusi karena harga properti, biaya pembangunan, dan kebutuhan hunian terus bergerak. Kenaikan suku bunga seharusnya menjadi alasan untuk lebih cermat, bukan berhenti memiliki properti.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa metode pembiayaan dan harga merupakan dua pertimbangan utama Gen Z saat memilih rumah pertama. Mereka cenderung menginginkan properti terjangkau, skema pembayaran sederhana, dan beban jangka panjang yang dapat dipahami sejak awal (Indraina, 2025). Artinya, Gen Z bukan tidak tertarik membeli rumah—mereka hanya tidak ingin terjebak cicilan yang melampaui kemampuan. Mereka berhati-hati terhadap utang jangka panjang dan membutuhkan harga serta skema pembayaran yang sesuai dengan pendapatan awal karier.

Masalahnya, rumah tapak murah di kawasan perkotaan semakin sulit ditemukan. Di sinilah hunian vertikal muncul sebagai pilihan kompromi. Karakteristik dan gaya hidup generasi muda metropolitan dapat mendukung preferensi terhadap hunian vertikal. Bagi kelompok yang memilih hunian tersebut, fitur ruang menjadi pertimbangan utama, disusul aspek ekonomi seperti biaya operasional, perawatan, serta pajak (Fadillah & Adianto, 2025). Hunian vertikal juga berpotensi menjawab keterbatasan lahan perkotaan sekaligus mendekatkan penghuni dengan transportasi umum dan fasilitas sehari-hari.

Namun, menyebut Gen Z “lebih memilih” hunian vertikal juga perlu dilakukan secara hati-hati. Studi 2025 memperlihatkan bahwa rumah tapak tetap menjadi aspirasi utama responden Gen Z. Di tengah mahalnya rumah tapak perkotaan, hunian vertikal dapat menjadi pintu masuk yang lebih realistis. Apartemen atau rumah susun yang kompak, dekat transportasi publik, serta memiliki biaya operasional dan perawatan yang terukur sesuai dengan kebutuhan kehidupan urban. Penelitian Fadillah dan Adianto juga menempatkan kebutuhan ruang dan aspek ekonomi sebagai pertimbangan penting generasi muda dalam memilih hunian vertikal.

Karena itu, jawaban terhadap melemahnya pembelian rumah tidak cukup berupa promosi properti yang lebih agresif. Pemerintah, perbankan, dan pengembang perlu memperluas KPR berbunga tetap untuk pembeli pertama, menyediakan skema rent-to-own yang transparan, menekan uang muka, dan membangun hunian kompak di sekitar jaringan transportasi publik. Tanpa pembenahan tersebut, kenaikan BI Rate akan terus memperlebar jarak antara Gen Z dan kepemilikan rumah.

BI Rate yang naik bukan tanda berhenti membeli properti, melainkan tanda untuk membeli dengan strategi. Jangan membeli karena takut tertinggal, tetapi jangan pula menunggu sampai harga rumah semakin jauh. Properti yang sesuai kemampuan dapat menjadi tempat tinggal sekaligus fondasi aset jangka panjang.

Simak berita seputar properti lainnya hanya di SWIFT UPDATE.

 

 

 

 

Referensi

Adhitiawarman, D. (2026, June 11). BI Rate naik jadi 5,50%, cicilan KPR jadi berapa? detikProperti. https://www.detik.com/properti/berita/d-8527542/bi-rate-naik-jadi-5-50-cicilan-kpr-jadi-berapa

Bank Indonesia. (2026, July 24). BI-Rate tetap 5,75%: Memperkuat stabilitas, mendorong pertumbuhan ekonomi. https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2814226.aspx

CNBC Indonesia. (2026, July 22). Warga RI lagi ogah-ogahan beli rumah, ternyata ini penyebabnya. https://www.cnbcindonesia.com/news/20260722121943-4-752866/warga-ri-lagi-ogah-ogahan-beli-rumah-ternyata-ini-penyebabnya

Fadillah, P., & Adianto, J. (2024). Reasons for freehold homeownership of the younger generations to live in vertical housing in the Greater Jakarta Metropolitan Area, Indonesia. International Journal of Built Environment and Scientific Research, 8(1), 45–62. https://doi.org/10.24853/ijbesr.8.1.45-62

Indraina, M. M. M., Herlina, L., & Shalihati, F. (2025). Investigating Generation Z preferences in choosing their first home: Optimizing rent-to-own housing strategies for Bank BTN and property developers. Business Review and Case Studies, 6(3), 445–458. https://doi.org/10.17358/brcs.6.3.445

Sandi, F. (2026, July 22). BI Rate diramal bisa sampai 6,75%, siap-siap bunga KPR bakal naik. CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/news/20260722133800-4-752909/bi-rate-diramal-bisa-sampai-675-siap-siap-bunga-kpr-bakal-naik

Pos terkait

Polemik Rekening Mandiri Jelang Demo 27 Agustus: Mengapa Transparansi Jadi Sorotan?

Hi Property Lovers! Menjelang rencana demonstrasi di Jakarta pada 27 Agustus 2026, polemik mengenai...

Rekomendasi 4 Daerah Hunian Strategis di Jakarta Selatan

Hi Property Lovers! Lokasi menjadi yang terpenting dalam mencari hunian impian anda. Hal ini dapat...

Pasar Properti 2026 Melambat, Kenaikan Suku Bunga Jadi Tantangan Baru

Hi Property Lovers! Industri properti Indonesia menghadapi tekanan baru di pertengahan 2026 setelah...

Bergabunglah dengan Diskusi